Tidak, ternyata kebahagiaan pun tidak juga terdapat pada banyaknya waktu rehat

Tidak, ternyata kebahagiaan pun tidak juga terdapat pada banyaknya waktu rehat

Banyak orang menyangka bahwa banyaknya waktu untuk rehat adalah kunci meraih bahagia. Tidak disangkal bahwa waktu dan kesempatan untuk rehat dapat meringankan kegelisahan dan rasa letih. Tapi hal yang tidak bisa dilupakan bahwa ternyata kebahagiaan juga dapat dirasakan oleh seorang yang justru meletihkan tubuhnya. Bahkan terkadang rasa letih itulah yang menjadi puncak kebahagiaan. Andai suatu ketika kamu terpaksa terjun ke dasar sumur untuk menyelamatkan seorang anak yang hampir tenggelam. Disaat engkau berhasil menyelamatkannya, sebuah kenikmatan yang sangat besar akan menghiasi relung hatimu bahkan meski rasa letih yang menghinggapi tubuhmu.

Tidakkah engkau melihat betapa kebahagiaan yang dirasakan oleh para ulama dan para penuntut ilmu dimasa-masa belajarnya dan disaat mereka menjadi sosok yang bermanfaat dengan ilmunya bahkan meski keletihan yang sangat besar dialaminya pada masa-masa menuntut ilmu.

Demikianlah juga yang dialami oleh para atlet. Meski tubuh mereka dibanjiri oleh keringat letih, namun mereka sungguh menikmati masa-masa itu.

Petugas-petugas sosial yang melayani kebutuhan orang-orang lemah dan membutuhkan pertolongan. Meski mereka letih, tetapi betapa mereka bahagia dengan pekerjaannya itu.

Para dermawan pun merasakan hal yang sama. Betapapun banyaknya dana dan tenaga yang harus mereka kerahkan untuk membantu orang-orang miskin, namun mereka mendapatkan kebahagiaan yang besar bersama dengan rasa lelah yang menyertainya.

Maka dari seluruh uraian dan contoh-contoh yang telah dipaparkan, tetaplah orang-orang diperhadapkan pada sebuah tanda tanya, “Apa sih hakikat kebahagiaan itu dan bagaimana upaya untuk meraihnya ?”.

1. Manusia

Dari apa ia diciptakan ?

Allah berfirman;{Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya)} [QS. Ghafir:67]

Ya, demikian itulah asal seorang manusia. Dari tanah dan selanjutnya dari setetes air yang hina. Kemudian –kelak- ia akan terbujur menjadi sebagai mayat. Dan ketika hayat masih lekat pada tubuhnya, kemanapun ia berada, selalu membawa najis dalam tubuhnya, yang ia sendiri akan merasa jijik jika melihatnya. Tetapi, walau mengetahuinya, ternyata sebagian manusia tetap saja membangkang kepada Allah. Maka sungguh kafir (ingkar) lah jenis menusia tersebut. Allah berfirman; {Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya?. Dari apakah Allah menciptakannya?. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya. kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali} [QS. ‘Abasa:17-22]

Meski pengingkaran manusia itu sangat keras, Allah mengangkatnya sebagai makhluk mulia. Allah menyuruh para malaikatNya untuk bersujud kepada nabiullah Adam (ayah dari seluruh manusia); Ia tundukkan bumi dan hewan penghuninya untuk memenuhi kepentingan hidupnya; dan Ia angkat manusia dengan akalnya yang membuat berbagai temuan inovatif yang luar biasa. Allah berfirman;{Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan} [QS. Al Israa:70]

Maka haikiat manusia itu tidaklah mungkin dapat diketahui kecuali dengan memahami dua hal tentang manusia sebagaimana yang dipaparkan sebelumnya. Dengan memahaminya akan terciptalah keseimbangan pola pikir yang terbangun atas dasar iman bahwa segala hal luar biasa yang berhasil dicapai oleh manusia tidak lain berkat besarnya kemurahan dan kasih sayang Allah. Allah berfirman; {Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan} [QS. An Nahl:53]

Manusia itu sendiri tidak lebih melainkan sebuah jasad yang terbalut kulit dan tulang. Ia akan menjadi sesuatu yang bernilai dan tinggi dengan membekali dan menghiasinya dengan ilmu dan amal shaleh.

Meski ia adalah sosok yang lemah dan banyak kekurangan, namun Allah memuliakannya dengan memberinya berbagai kemampuan untuk memikul amanahNya, yang tidak akan dapat dipikul oleh makhluk selainnya. Allah berfirman; {Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh} [QS. Al Ahzaab:72]

Jika seorang mencoba melepaskan diri dari 2 hakikat kemanusiaan yang telah disebutkan sebelumnya, dan kemudian menyikapi kehidupan ini dengan tidak menyeimbangkan antara 2 hakikat kemanusiaan tersebut, maka keadaannya pasti tidak lepas dari dua hal itu secara tidak berimbang;

Mungkin ia akan memandang dirinya tidak lebih dari seonggok tubuh yang hina, dipenuhi nafsu dan tidak memiliki arah serta tujuan.

Dan atas dasar itu, ia akan menghabiskan usianya bersenang-senang, tidak ubahnya seperti hewan. Kemudian usianya pun akan berakhir dalam kehinaan. Allah berfirman; {Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka}
[QS. Muhammad:12]

Kemungkin kedua, ia akan menjadi sosok yang sombong, melampaui batas dan lupa serta lalai bahwa kelak ia akan dikembalikan kepada Allah. Allah berfirman; {Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu)} [QS. al ‘Alaq:6-8]

Olehnya wajib bagi setiap orang mengenali eksistensi diri dan potensinya, serta berupaya agar dapat memberdayakan secara baik dirinya sendiri.

Hal ini menjadi sangat penting karena diantara sebab timbulnya keputusasaan hidup adalah ketika seorang tidak menemukan eksistensi keberadaan dirinya, apa peranannya dalam kehidupan sosial, apa potensi yang dimilikinya dan apa yang bisa dilakukan serta disumbangkannya ?.

Mengapa dia diciptakan ?

Allah menciptakan seluruh makhluk dengan sebuah tujuan. Tidaklah Ia ciptakan semua makhluk Nya itu dengan sia-sia dan tanpa tujuan. Allah berfirman; {Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia} [QS. al Mukminuun:115-116]

Ia menciptakan seluruh hamba untuk menjadi hamba Nya secara utuh dalam seluruh aspek kehidupannya dan bukan semata dalam aspek ibadah yang bersifat ritual. Allah berfirman; {Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.}
[QS. ad Dzaariyaat:56]

Seorang yang tidak mengetahui tujuan keberadaannya di muka bumi ini, maka sungguh ia akan tersiksa dengan ketidaktahuannya itu. Dia akan terus berada dalam kebingungan dan keraguan yang membuatnya resah.

Baginya ibadah dan kebahagiaan adalah dua kutub berseberangan. Demikianlah juga ibadah dan kehidupan dunia, serta kehidupan dunia dan akhirat.

Sementara, Allah sesungguhnya telah menciptakan segala sesuatu di langit dan di bumi untuk kepentingan hamba-Nya. Allah berfirman; {Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir} [QS. al Jaatsiyah:13]

Maka wajib bagi setiap manusia untuk menyadari bahwa mereka adalah makhluk yang telah diberi amanah oleh Allah untuk memakmurkan bumi ini. Allah berfirman

{Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang} [QS. al An’aam:165]

2. Kehidupan

Setelah mengetahui tujuan keberadaannya, maka jiwa manusia beranjak untuk juga mengetahui hakikat hidup yang membuat setiap orang bergantung padanya. Mengetahui hakikat hidup ini adalah asas dan pondasi teraihnya seluruh kenikmatan dunia dan perhiasannya. Hal inilah yang menjadikan orang berlomba dan berharap mendapatkannya. Maka apakah tujuan dari keberadaan hidup ?.

Tujuan diciptakannya mati dan hidup sesungguhnya adalah cobaan bagi manusia, siapa diantara mereka yang terbaik amalnnya. Allah berfirman;

{Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun} [QS. al Mulk:2]

Inilah hakikat dan tujuan hidup. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Allah berfirman; {Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir}[QS. Yunus:24]

Allah berfirman; {Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu} [QS. al Kahfi:45]

Kehidupan yang saat ini kita jalani hanyalah tempat transit belaka dan bukan tempat yang kekal. Hidup ini ibarat sebuah jembatan yang akan mengantarkan seorang ke kampung akhirat. Olehnya maka kehidupan ini tidaklah akan berakhir dengan tutupnya usia dunia. Setelah kehidupan di dunia, ada lagi kehidupan yang kekal di negeri akhirat. Kehidupan di dunia hanyalah main-main, senda gurau, perhiasan dan saling bermegahan. Allah berfirman; {Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu} [QS. al Hadiid:20]

Ayat ini menggambarkan hina dan tidak berartinya hidup di dunia. Hal yang akan melenyapkan ketergantungan hati kepadanya dan mengalihkannya kepada akhirat.

Ketika dunia dinilai berdasarkan timbangan dan tetapannya, maka ia akan terlihat sangat besar dan mengangumkan.

Namun ketika seorang mengukur kehidupan dengan ukuran keberadaan dan kehidupan akhirat sebagai parameter penilaiannya, niscaya dia akan mendapati dunia sebagai sesuatu yang tidak berarti; kehidupan di dunia hanyalah main-main, senda gurau, perhiasan dan saling bermegahan . Inilah hakikat dunia sesungguhnya yang tersembunyi dibalik kesungguhan dan kerja keras orang- orang yang mengejarnya.

Ya, demikianlah hakikat hidup di dunia yang sebenarnya. Hakikat ini tidaklah akan dipahami melainkan oleh hati mereka yang betul-betul mencermati dan ingin mengetahui makna hidup yang sesungguhnya.

Hakikat inilah yang telah diungkap oleh al Quran. Tujuan pengungkapan itu bukanlah agar seorang mengasingkan diri dari kehidupan dan juga bukan untuk mengabaikannya.

Namun pengungkapan itu dimaksudkan untuk meluruskan timbangan-timbangan perasaan dan nilai keduniaan, serta mengekang keterikatan jiwa dengan dunia yang fana dan menipu.

Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah ibarat jembatan. Orang-orang berlalu lalang di atasnya, berjalan menuju akhirat.

Membandingkan kehidupan dunia yang singkat ini dengan kehidupan akhirat yang abadi akan menjadikannya kecil dan tidak berarti.

Kebaikan yang kelak akan dirasakan oleh orang-orang di kehidupan keduanya akan tergantung pada kebaikan hidup yang telah mereka jalani pada kehidupannya yang pertama.

Kalau demikian, mereka itu terus berada dalam ujian. Dan seluruh yang mereka saksikan berupa kenikmatan dan kemegahan dunia, serta duka dan derita; semua itu akan berlalu dengan cepat. Semua itu akan diletakkan dalam timbangan penentu jalur hidup yang abadi. Maka adakah anda telah mempersiapkan bekal di alam kubur? Allah berfirman;

{Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa’at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah)}
[QS. al An’aam:94]

Tetapi mengapa banyak manusia yang tidak menyadari hakikat ini?. Allah berfirman; {Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai} [QS. ar Ruum:6]

Lantas bagaimana dengan mereka yang justru condong kepada dunia dan tidak berharap perjumpaan dengan Allah?. Allah berfirman; {Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan}
[QS. Yunus:7-8]

Bagaimana dengan mereka yang lebih mengutamakan kehidupan dunia? Allah berfirman; {Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)} [QS. an Naazi’aat:37- 41]

Ya.. wajar saja mereka bersikap seperti itu. Karena mereka menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, yang pada akhirnya menipu dan memperdayanya. Allah berfirman; {(orang-orang kafir itu adalah) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka”. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami} [QS. al a’raaf:51]

Ya.. wajar saja mereka bersikap demikian. Karena mereka ingin merusak kehidupan. Allah berfirman; {(orang-orang kafir itu adalah) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh} [QS. Ibraahim:4]

Seluruh hal yang disebutkan tidaklah bertujuan untuk merendahkan dunia dalam pandangan manusia dan menjadikan mereka berpangkutangan menanti ajal, serta tidak berusaha mengadakan perbaikan dengan ilmu dan amal.

Tidak demikian, namun sikap yang benar yaitu hendaknya mereka berinteraksi dengan dunia dan menyikapinya sebagaimana petunjuk Allah lewat firman-Nya; {Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan} [QS. al Qashash:77]

Allah berfirman; {Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?}
[QS. al Qashash:60]

Dengan pola pikir yang telah disebutkan, maka dunia dalam pandangan seorang akan terlihat sebagai sebuah lahan emas yang harus dimanfaatkan.

Dengan pola pikir tersebut, maka dunia ini tidaklah berhak mendapat perlakuan istimewa melainkan karena keberadaannya sebagai sebuah jembatan menuju kehidupan bahagia nan kekal.

Adapun kemegahan dan kesenangan hidup yang menjadi pernak-perniknya, maka tidaklah hal itu melainkan sebagai perhiasan dan kesenangan hidup sementara. Allah berfirman; {Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)} [QS. Ali Imran:14]

Allah berfirman; {Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.}
[QS. al Kahfi:46]

Meski berfungsi sebagai perhiasan dan kesenangan, segala fasilitas hidup yang Allah karuniakan itu tidak dilarang untuk menggunakannya, jika digunakan secara baik dan tepat. Allah berfirman; {Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui} [QS. al A’raaf:32]

Dengan cara pandang demikian, maka seorang muslim akan menjadi tenang dan yakin dalam menjalani hidup dengan segala fasilitasnya. Ia yakin bahwa semua yang dimilikinya di dunia ini tidaklah kekal. Dia akan senantiasa berupaya untuk memanfaatkannya secara maksimal dengan tidak berlebihan. Dia yakin bahwa segala fasilitas yang dimilikinya itu harus ditempatkannya dalam genggaman dan tidak seharusnya ia menyimpannya di dalam hati. Maka apapun yang luput dan tidak mampu diraihnya dari kesenagan duniawi, demikian juga bencana yang menimpanya; tidak sedikitpun akan memudharatkannya. Allah berfirman; {Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri}
[QS. al Hadid:22-23]

Dengan menyadari hal itu, seorang akan betul-betul menikmati hidup di dunia dengan segala fasilitasnya. Disamping itu, dia pun akan mendapatkan pahala dari Allah. Ia akan mendapatkan kepuasan jasmani dengan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan fisikalnya. Dan ia pun mendaptkan kebahagiaan rohani, berupa ketenangan dan perasaan ridha yang menghiasi jiwanya.

3. Alam raya

Bagian ketiga dan terakhir dari perjalanan panjang seorang memahami hakikat keberadaannya adalah memahami alam raya.

Perenungan ini dimulai dengan mencermati firman-Nya; {Katakanlah: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”} [QS.Yunus:101]

Setelahnya, dilanjutkan dengan mempelajari dan memahami puluhan ayat yang berisi anjuran untuk memikirkan kebesaran dan keagungan ciptaan Allah. Dari perenungan itu diharapkan dapat mengantar seorang menjadi lebih yakin akan hakikat keberadaan dan hidup yang telah dipahaminya dari perenungan-perenugan sebelumnya.

Dengan memahami keseluruhan ayat yang telah disebutkan tadi, seorang juga akan mengetahui bahwa ada dua hal sinergi yang hendaknya menjadi landasan dasar dalam memahami hakikat keberadaan manusia di alam raya ini;

1. Pemahaman bahwa Allah telah menyediakan sebagian besar dari makhluk di alam raya ini untuk kepentingan manusia. Tidak saja bahwa Allah telah melebihkan mereka dengan beberapa keutamaan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya; bahkan juga dengan menjadikan makhluk-makhluk itu sebagai pelayan bagi mereka. Allah berfirman; {Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan} [QS. Lukman:20]

Allah berfirman; {Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya).}
[QS. an Nahl:12]

Allah berfirman; {Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada- Nya- lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan}
[QS. al Mulk:15]

Seorang muslim akan mendapati banyak ayat dalam al Quran yang menjadi dasar betapa Allah telah menyediakan sebagian besar dari makhluk di alam raya ini untuk kepentingan manusia. Hal ini seharusnya menjadikan mereka bersahabat dengan alam dan tidak menjadikannya resah dan sedih ketika tertimpa musibah atau benacana alam.

Alam raya ini tidaklah tercipta untuk menjadi musuh abadi bagi manusia lemah. Sebagai manusia tidaklah tercipta untuk terus bergulat melawan kerasnya alam.

2. Hakikat kedua yang harus dipahami bahwa alam raya ini tidak menyingkap seluruh rahasia yang dipendamnya kepada manusia. Maka meski alam raya ini diciptakan untuk memfasilitasi dan memudahkan urusan manusia, tetapi masih banyak lagi makhluk di alam raya ini yang belum lagi diketahui olehnya.

Para malaikat dan jin adalah beberapa makhluk yang memenuhi alam raya ini. Dan mungkin ada lagi makhluk selain keduanya yang memenuhi alam raya ini; manusia belum mengetahui jenis atau bahkan keberadaannya.

Keberadaan manusia sendiri di alam raya ini, sebenarnya ibarat satu titik kecil yang tidak akan terlukiskan dihadapan alam raya yang sungguh besar nan luas ini.

Dengan memahami dua hakikat keberadaan mereka di alam raya ini, diharapkan bahwa seorang muslim menyadari kedudukan dan perannnya di alam raya ini. Allah mengistimewakannya dengan menjadikan makhluk lain tunduk sebagai fasilitator bagi mereka. Tetapi meski dengan kemampuan luar biasa yang mereka miliki itu, tidaklah mereka dapat membuka dan menyingkap seluruh rahasia alam.

Adapun interaksi manusia dengan alam sekitarnya hendaknya terbangun diatas aturan-aturan yang jelas dengan landasan adab yang mulia.

Orang-orang yang hidup dalam kesimpangsiuran dan hampa dari aturan-aturan yang mengikat interaksinya dengan yang selainnya, akanlah senantiasa berada dalam kepayahan, keresahan dan ketidaknyamanan.

Sikap egoisme dan keakuan, hasad, prasangka buruk dan mencari-cari celah untuk mencelakakan orang lain; penyakit-penyakit hati seperti inilah yang akan senantiasa menyiksa dan menyengsaakannya. Lantas bagaimana mereka dapat merasakan kebahagiaan ?!. Allah berfirman;

{Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar} [QS. Fushshilat:34-35]

Adapun seorang yang mengatur hidup dan interaksinya dengan memperhatikan hak dan kewajibannya; maka ia akan senantiasa berupaya menjalankan kewajibannya, namun akan berlaku longgar terhadap haknya dan bahkan memaafkan serta memutihkannya.

Ia akan menjadi sosok yang bahagia. Ia akan mencintai sesamanya. Dan sikap inilah yang merupakan tingkat tertinggi dalam adab berinteraksi. Dan sikap demikianlah yang merupakan fitrah asal seorang manusia.

Bertanyalah dan al Quran akan menjawabnya

6_5.jpg

Mike Tyson
Petinju dunia
Setelah mempelajari al Quran, saya dapati jawaban dari seluruh pertanyaan dalam hidup

Agama manusiawi

6_6.jpg
Martin Lings
Ilmuwan Inggris
Di dalam Islam, saya baru mendapati diriku yang sesungguhnya, setelah sekian lama saya kehilangannya. Ketika itulah, untuk pertama kalinya saya baru merasa sebagai manusia yang sebenarnya. Islam adalah agama yang sungguh sangat selaras dengan fitrah kemanuisaan.

Agama kemuliaan dan akhlak

6_7.jpg

Vanan Musset
Ilmuwan Prancis
Karena itu aku memilih Islam, yaitu agar dapat merasakan kebahagiaan dalam dekapan dan naungannya … Ya, saya pun akhirnya memilih Islam. Saya ingin memastikan bahwa saya telah menganut sebuah agama yang tidak memilah antara badan dan ruh, dan antara jiwa dan jasad. Cukup bagiku bahwa Islam adalah agama yang suci. Islam adalah agama yang mengajak kepada akhlak mulia. Islam adalah agama yang mengajak unutk kembali kepada nilai-nilai kemanusiaan, memuliakan dan menjaganya. Karena itulah saya bersaksi bahwa tiada sembahan yang benar melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan Nya. Maka dengan persaksian itulah - kelak- saya akan menjumpai Tuhanku.

Nikmat Islam

6_8.jpg

Marcela Michelangelo
Artis Inggris
Tidak ada satupun nikmat dunia yang lebih indah bagi seorang melainkan ketika Allah melapangkan dadanya terhadap Islam. Ia mendapat petunjuk dengan cahanya. Dengan cahaya itu, ia mampu melihat hakikat dunia dan akhirat, ia mampu membedakan antara jalan kebenaran dan jalan kebathilan, jalan kebahagiaan dan jalan kesengasaraan. Saya betul-betul sujud dan bersimpuh dihadapan Allah, sebagai wujud rasa syukurku atas nikmat Islam yang telah dikaruniakannya kepada ku. Karunia yang telah membuatku merasakan nikmat yang sebenarnya. Ia telah menjadikanku berada dalam naungan yang sangat rindang, teduh, dikelilingi dengan buah-buah lezat nan harum. Kini aku telah berada dalam naungan keluarga besar Islam, ikatan persaudaran islam.

Related Posts


Subscribe