Home /Jalan kebahagiaan /Agama yang Lestari / Sumber Syariat Islam

Sumber Syariat Islam


Sumber Syariat Islam

Al Qur’an .. adalah kitab suci terakhir

Bashir Shad
Misionaris asal India
Ketika aku beriman kepada tauhid, aku mulai mencari bukti-bukti dan penjelasan yang menegaskan bahwa Al Qur’an adalah kitab suci Allah Ta’ala dan bahwa ia adalah kitab suci terakhir dan penutupnya, dan aku memuji Allah yang membuat aku mampu mendapatkan solusi dari permasalahan ini. Al Qur’an al Karim adalah satu-satunya kitab suci yang mengakui seluruh kitab suci samawi lainnya, sementara kita dapati kitab-kitab lain saling menolak satu sama lain, dan ini adalah salah satu keistimewaan Al Qur’an al Karim

Kedudukan dan keutamaan Al Qur’an

Will Durant
Penulis asal Amerika
Al Qur’an senantiasa terjaga pada memori umat Islam selama empat belas abad memancing khayalannya, membentuk akhlaknya dan mempertajam bakat ratusan juta orang. Al Qur’an mememberikan akidah termudah dalam jiwa, yang paling sedikit perkara sulitnya, paling jauh dari keterikatan dengan upacara-upacara dan ritual-ritual, yang paling bebas dari Paganisme dan keimamatan, ia memberi andil yang sangat besar dalam mengangkat akhlak dan budaya umat Islam, ia menegakkan dalam ummat Islam dasar-dasar peraturan sosial dan persatuan sosial, memotivasi mereka untuk mengikuti dasar-dasar yang benar, membebaskan akal mereka dari mitos dan khayalan, kekerasan dan kezaliman, memperbaiki kondisi budak dan memberikan kekuatan dan martabat dalam diri orang-orang lemah

Agama Islam mengambil syariat, akidah dan hukum-hukumnya dari wahyu ilahi -Al Qur’an dan hadits-, ia adalah sumber agama Islam, darinya diambil undang-undang, akidah dan hukum. Berikut ini pengenalan singkat tentang keduanya

a. Al Qur’an al Adzhim

Allah Ta’ala menurunkan Al Qur’an kepada nabi-Nya, Muhammad -shallallahu alaihi wa sallam- sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, undang-undang bagi umat Islam, obat bagi hati orang-orang yang Allah ingin berikan petunjuk kepadanya, cahaya bagi siapa yang Allah ingin kemenangan baginya. Ia mengandung pokok-pokok yang dengannya Allah mengutus para rasul. Dan Al Qur’an bukanlah suatu hal yang baru, sebagaimana nabi Muhammad -shallallahu alaihi wa sallam- bukanlah rasul baru, Allah Ta’ala telah menurunkan Shuhuf kepada nabi Ibrahim, memuliakan nabi Musa dengan Taurat, nabi Daud dengan Zabur dan nabi Isa datang membawa Injil. Kitab-kitab suci ini adalah wahyu dari Allah yang Ia wahyukan kepada nabi dan rasul. Diantara bukti bahwa Al Qur’an adalah wahyu dari Allah, ia memerintahkan iman kepada seluruh nabi Allah dan tidak membeda-beda seorangpun diantara mereka. Allah Ta’ala berfirman: {Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang}
[QS. An Nisa:150-152]

Namun kitab-kitab suci terdahulu sebagian besarnya telah hilang dan telah diotak-atik serta diubah

Adapun Al Qur’an, Allah Ta’ala telah jamin akan menjaganya, Ia berfirman: {Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya} [QS. Al Hijr:9]

Ia menjadikannya sebagai penghapus kitab-kitab suci sebelumnya. Ia berfirman: {Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu} [QS. Al Maidah:48]

Dan Ia menyebutnya sebagai penjelas segala sesuatu, Ia berfirman: {Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri} [QS. An Nahl:89]

Dan ia adalah petunjuk dan rahmat. Allah Ta’ala berfirman: {Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat} [QS. Al An’am:157]

Dan ia membimbing kepada jalan yang lurus. Allah Ta’ala berfirman: {Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar} [QS. Al Isra:9]

Ia membimbing manusia kepada jalan yang lurus dalam segala lini kehidupan

Dan Al Qur’an al Karim mengandung segala apa yang dibutuhkan manusia, mencakup pokok-pokok akidah, hukum, transaksi, etika dan lain-lain. Allah Ta’ala berfirman: {Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab} [QS. Al An’am:38]

Kitab lengkap

Sydney Fisher
Dosen di universitas Ohio-Amerika
Al Qur’an adalah kitab pembinaan dan pendidikan, tidak semua isinya berbicara tentang ibadah dan syi’ar, dan kebajikan yang dianjurkannya kepada ummat Islam adalah kebajikan terindah dan terberat dalam timbangan akhlak, dan petunjuk kitab ini tampak jelas pada larangan-larangannya sebagaimana tampak jelas pada perintah-perintahnya

b. Sunnah Nabi

Sunnah yang bercahaya

Etienne Dinet
Pelukis dan pemikir asal Perancis
Sunnah Muhammad yang mulia tetap ada hingga zaman kita sekarang, terjaga kemurniannya oleh keikhlasan yang agung, jiwa ratusan juta dari pengikut sunnahnya tersebar di permukaan bumi

Allah Ta’ala menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah dan mewahyukan kepadanya sunnah, Allah Ta’ala berfirman: {Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)}[QS. An Najm:4]

Dan ia seperti Al Qur’an, Rasulullah bersabda: «“Ketahuilah, Aku diberikan Al Qur’an dan yang semisalnya bersamanya, Ketahuilah, Aku diberikan Al Qur’an dan yang semisalnya bersamanya”» (HR. Ahmad). Ia adalah wahyu dari Allah kepada rasul-Nya, Muhammad, karena nabi tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, ia hanyalah menyampaikan kepada manusia apa yang Allah perintahkan. Allah Ta’ala berfirman: {“Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”}
[QS. Al Ahqaf:9]

Sunnah adalah sumber kedua syariat Islam, yaitu segala apa yang diriwayatkan dari nabi Muhammad dengan sanad yang shahih, bersambung sampai rasulullah, baik berupa perkataan, perbuatan maupun persetujuannya serta sifat-sifatnya. Ia adalah penjelas Al Qur’an al Karim, beliau telah mendapat izin untuk menjelaskan isi Al Qur’an, baik nash yang bersifat umum, khusus dan yang global. Allah Ta’ala berfirman: {Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan} [QS. An Nahl:44]

Ia menjelaskan Al Qur’an, merincikan yang global dari hukum-hukumnya, dimana kadang Nabi menjelaskan apa yang diwahyukan kepadanya dengan ucapan, kadang juga dengan perbuatan dan kadang dengan kedua-duanya. Terkadang sunnah menjelaskan perkara dan hukum yang tidak terdapat dalam Al Qur’an.

Sunnah yang suci merupakan aplikasi nyata dari Islam, baik hukum, akidah, ibadah, muamalat (transaksi) maupun etika. Nabi telah menjalankan apa yang diperintahkan kepadanya dan menjelaskannya kepada manusia. Beliau memerintahkan untuk melakukan apa yang beliau lakukan, dan Allah telah memerintahkan orang-orang beriman untuk mengikutinya dalam perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapannya agar keimanan mereka menjadi sempurna. Allah Ta’ala berfirman: {Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah}
[QS. Al Ahzab:21]

Al Qur’an dan hadits saling berdampingan

Jack Ressler
Orientalis Perancis
Al Qur’an disempurnakan oleh hadits yang terhitung sebagai rangkaian ucapan yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan nabi Muhammad dan petunjuknya. Di dalam hadits, seseorang mendapatkan apa yang pernah berputar pada pikiran nabi Muhammad, ia adalah unsur pokok dari perilakunya di hadapan kenyataan yang berubah-ubah dalam kehidupan. Maka, sunnah adalah penjelas bagi Al Qur’an yang tidak dapat terpisah darinya

Sunnah sebagai hadiah

Leopold Weiss
Pemikir Austria
Dengan mengamalkan sunnah nabi Muhammad berarti bekerja menjaga eksistensi Islam dan kemajuannya, dan meninggalkan sunnah berarti merusak Islam. Dahulu sunnah adalah sturktur besi yang di atasnya tegak bangunan Islam. Jika engkau merusak struktur suatu bangunan, apakah engkau akan kaget ketika bangunan itu rusak bagaikan rumah yang terbuat dari kertas

Para sahabat Rasulullah yang mulia telah mengajarkan perkataan dan perbuatan beliau kepada orang-orang yang datang setelahnya, dan mereka juga menyampaikannya kepada orang-orang yang datang setelahnya, lalu dituangkan dalam tulisan di buku-buku hadits. Para perawi hadits sangat selektif dalam meriwayatkannya, mereka mempersyaratkan pada orang yang menerima hadits harus hidup semasa dengan orang yang ia ambil hadits darinya agar supaya bersambung rantai periwayatan dari perawi sampai kepada Rasulullah dan juga dipersyaratkan seluruh perawinya memiliki hafalan kuat, adil, jujur dan amanah dalam meriwayatkan hadits.

Wajib mengimani Al Qur’an dan Sunnah sebagai dua sumber pokok dalam agama Islam, wajib mengikutinya dan merujuk kepadanya, mengikuti perintah-perintahnya, menjauhi larangan-larangannya, membenarkan berita-beritanya, juga wajib beriman terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah serta apa yang Allah siapkan bagi orang-orang beriman dan ancaman bagi orang-orang kafir. Allah Ta’ala berfirman: {Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya} [QS. An Nisa:65]

Dan firman-Nya: {Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah} [QS. Al Hasyr:7]

Betapa bahagianya orang yang meniti jalan ini, ia adalah jalan kebahagiaan!!.

Pengumpulan sunnah Nabi

Jack Ressler
Orientalis Perancis
Dan hadits-hadits ini yang keseluruhannya merupakan sunnah, dicatat dari apa yang diriwayatkan dari sahabat nabi atau dinukil dari mereka dengan sangat teliti dalam memilihnya, dengan cara demikianlah sejumlah besar hadits-hadits dikumpulkan

Agama kebahagiaan dan ketenangan

Rugiye Dobakiye
Pemikir dan jurnalis dari Swiss
Dahulu, pernah saya bertanya kepada diriku; “Apa gerangan yang menyebabkan orang-orang muslim selalu saja merasakan ketenangan dan kebahagiaan hidup meski lilitan ekonomi dan keterbelakangan hidup yang meliputinya ?. Sebaliknya, mengapa orang-orang swedia selalu saja diliputi kegundahan dan perasaan sempit, ditengah-tengah kemegahan hidup dan kemajuan teknologi yang hadir bersama mereka ?!. Bahkan di negaraku pun, Swis, saya merasakan hal yang sama dengan keadaan yang telah saya rasakan sendiri di Swedia. Padahal tingkat kemapanan hidup di Swis dan kemajuan teknologi sangatlah pesat !!. Menyadari hal itu, saya terpanggil untuk lebih dalam mempelajari agama-agama timur tengah. Saya pun mulai dengan mempelajari agama hindu. Namun saya tidak merasa puas dan cocok dengan agama itu. Hingga pada akhirnya saya mempelajari Islam. Ketertarikanku mempelajari Islam semakin besar ketika mengetahui bahwa ternyata agama ini tidak bertolakbelakang dengan agama-agama lainnya. Justru ajaran agama ini melingkupi dan melengkapi ajaran-ajaran agama lainnya. Agama ini adalah penutup sekalian agama. Dan kesadaran ini semakin tumbuh menghiasi relung hatiku hingga terpatri kokoh, seiring dengan semakin banyaknya referensi bacaanku tentang agama ini.”.

Kebahagiaan

Nasiim Sausah
Dosen yahudi berkebangsaan Iraq
Harus diingat bahwa peradaban baru yang diusung oleh barat telah gagal untuk meyakinkan jiwa bahwa ia adalah peradaban yang mampu mendatangkan kebahagiaan. Malah peradaban ini justru telah mengantarkan manusia pada lembah kesengsaraan dan kesembrawutan. Sebabnya karena esensi dari ilmu modern yang mereka kembangkan hanyalah untuk merusak dan memusnahkan. Keadaan inilah yang menyebabkannya jauh dari kesempurnaan atau dapat menjadi penopang dalam misi kemanusiaan sebagaimana yang terjadi di masa kejayaan Islam.